Pendidikan merupakan bagian penting dari kehidupan setiap anak. Melalui pendidikan, anak-anak memperoleh pengetahuan, mengembangkan kemampuan, membangun hubungan sosial, dan mempersiapkan diri untuk masa depan.
Namun, bagi banyak anak Palestina, kesempatan untuk belajar menghadapi tantangan yang jauh lebih besar daripada sekadar memahami pelajaran di ruang kelas.
Konflik berkepanjangan, kerusakan fasilitas pendidikan, perpindahan penduduk, dan terbatasnya akses terhadap kebutuhan dasar telah mengganggu keberlangsungan pendidikan, terutama di Jalur Gaza. Di Tepi Barat, kekerasan, pembatasan pergerakan, dan pengungsian juga memengaruhi akses sebagian anak terhadap sekolah.
Laporan UNICEF pada April 2026 menggambarkan besarnya tantangan pendidikan di Gaza. Sekitar 700.000 anak usia 4–17 tahun telah kehilangan kesempatan mengikuti pembelajaran tatap muka formal selama hampir tiga tahun ajaran berturut-turut. Laporan tersebut juga menyebutkan bahwa sekitar 98 persen bangunan sekolah mengalami kerusakan, dengan sebagian besar membutuhkan rehabilitasi besar atau pembangunan kembali.
Angka-angka tersebut menunjukkan bahwa krisis pendidikan bukan hanya persoalan gedung sekolah yang rusak. Ada proses belajar, perkembangan anak, dan kesempatan masa depan yang ikut terdampak.
Memahami kondisi pendidikan anak Palestina berarti memahami mengapa keberlangsungan belajar perlu menjadi bagian penting dari respons kemanusiaan.
Pendidikan Lebih dari Sekadar Belajar di Ruang Kelas
Sekolah sering kali dipahami sebagai tempat anak membaca, menulis, berhitung, dan mempelajari berbagai mata pelajaran. Padahal, peran pendidikan jauh lebih luas daripada kegiatan akademis.
Lingkungan belajar memberikan anak rutinitas, kesempatan berinteraksi dengan teman sebaya, hubungan dengan guru, serta ruang untuk mengembangkan kemampuan sosial dan emosional.
Bagi anak yang hidup dalam situasi penuh ketidakpastian, rutinitas tersebut dapat menjadi bagian penting dari kehidupan sehari-hari. Kesempatan untuk belajar, bermain, dan berinteraksi membantu anak mempertahankan hubungan dengan dunia di luar pengalaman krisis yang mereka hadapi.
Ketika pendidikan terhenti dalam waktu lama, dampaknya tidak hanya terlihat pada pelajaran yang tertinggal. Anak juga dapat kehilangan kesempatan mengembangkan keterampilan, membangun persahabatan, dan mempersiapkan diri untuk jenjang pendidikan berikutnya.
Karena itu, menjaga keberlangsungan pendidikan dalam situasi darurat merupakan bagian dari upaya melindungi hak anak dan mendukung perkembangannya.
Ketika Sekolah Tidak Lagi Menjadi Tempat Belajar
Di Gaza, kerusakan bangunan sekolah dan keterbatasan fasilitas telah mengurangi ruang yang tersedia untuk kegiatan belajar. Sejumlah fasilitas pendidikan tidak dapat digunakan, sementara kebutuhan tempat tinggal sementara bagi keluarga terdampak turut memberikan tekanan terhadap penggunaan bangunan yang masih tersedia.
Masalahnya juga tidak berhenti pada bangunan.
Anak-anak membutuhkan guru, buku, alat tulis, bahan pembelajaran, air bersih, sanitasi, dan lingkungan yang aman. Mereka juga memerlukan akses yang memungkinkan perjalanan menuju tempat belajar tanpa menghadapi risiko yang tidak semestinya.
UNICEF melaporkan pada April 2026 bahwa sekitar 420.000 anak di Gaza, atau tiga dari lima anak dalam kelompok yang dibahas, tidak memiliki akses ke pembelajaran tatap muka. Laporan tersebut juga menyoroti keterbatasan ruang belajar sementara, tenaga pengajar, dan perlengkapan pendidikan.
Kondisi tersebut memperlihatkan bahwa memulihkan pendidikan membutuhkan lebih dari sekadar memperbaiki bangunan. Seluruh lingkungan pendukung kegiatan belajar juga perlu dipulihkan.
Dampak Terhentinya Pendidikan terhadap Perkembangan Anak
Setiap anak memiliki perjalanan belajar yang berbeda. Namun, ketika kegiatan pendidikan terganggu dalam waktu lama, ada beberapa kebutuhan yang perlu mendapatkan perhatian khusus.
Kesenjangan dalam Proses Belajar
Anak-anak mengembangkan kemampuan secara bertahap. Keterampilan membaca membantu mereka memahami teks yang lebih kompleks, sedangkan kemampuan berhitung menjadi dasar untuk mempelajari konsep matematika berikutnya.
Ketika pembelajaran terhenti, sebagian anak mungkin mengalami kesulitan mempertahankan kemampuan yang telah dipelajari atau mengejar materi yang tertinggal.
Anak yang lebih kecil membutuhkan perhatian khusus karena masa awal kehidupan merupakan periode penting bagi perkembangan bahasa, kemampuan berpikir, dan keterampilan sosial.
Sementara itu, anak yang mendekati akhir pendidikan menengah dapat menghadapi tantangan berbeda, termasuk kesulitan mengikuti ujian, melanjutkan pendidikan, atau mempersiapkan diri memasuki dunia kerja.
Namun, dampak tersebut tidak berarti masa depan mereka sudah ditentukan. Dengan dukungan pendidikan yang sesuai, kesempatan belajar dapat dipulihkan dan kemampuan anak dapat terus dikembangkan.
Kebutuhan Akan Dukungan Psikososial
Pendidikan juga memiliki hubungan dengan kesejahteraan emosional anak.
Pengalaman menghadapi konflik, kehilangan orang terdekat, perpindahan tempat tinggal, atau ketidakpastian dapat memengaruhi perasaan aman dan kemampuan berkonsentrasi.
Tidak semua anak menunjukkan respons yang sama. Sebagian mungkin mengalami kesulitan tidur, mudah merasa takut, atau kesulitan mengikuti kegiatan belajar. Sebagian lainnya mungkin tetap menunjukkan ketertarikan yang kuat terhadap pendidikan meskipun berada dalam situasi sulit.
Karena itu, kegiatan belajar perlu dirancang dengan mempertimbangkan kebutuhan psikososial anak. Guru dan pendamping dapat membantu menciptakan lingkungan yang mendukung, menyediakan rutinitas yang konsisten, serta menghubungkan anak dengan layanan profesional apabila diperlukan.
Dalam laporan situasi kemanusiaan untuk periode Januari–Juni 2026, UNICEF menjelaskan bahwa pusat-pusat pembelajaran di Gaza tidak hanya mendukung kegiatan akademis, tetapi juga kesejahteraan psikososial dan rujukan kepada layanan khusus bagi anak yang membutuhkan.
Pendekatan ini memperlihatkan bahwa pemulihan pendidikan dan dukungan psikososial dapat saling melengkapi.
Mengapa Pendidikan Darurat Penting bagi Anak Palestina?
Dalam situasi krisis, pemulihan seluruh fasilitas pendidikan mungkin membutuhkan waktu panjang. Namun, anak-anak tidak seharusnya kehilangan kesempatan belajar sampai seluruh kondisi kembali normal.
Pendidikan darurat berupaya menyediakan kesempatan belajar ketika sistem pendidikan formal mengalami gangguan.
Bentuknya dapat berupa ruang belajar sementara, kegiatan belajar berbasis komunitas, pembelajaran nonformal, atau metode lain yang disesuaikan dengan kondisi setempat.
Ruang Belajar Sementara sebagai Langkah Awal
Ruang belajar sementara dapat membantu anak kembali mengikuti kegiatan pendidikan meskipun sekolah mereka belum dapat digunakan.
Tempat belajar tersebut perlu mempertimbangkan keselamatan, akses air bersih, sanitasi, ketersediaan bahan ajar, serta kebutuhan anak dengan disabilitas.
Selain menyediakan pembelajaran akademis, ruang belajar dapat menjadi tempat anak berinteraksi dengan teman sebaya dan mengikuti aktivitas yang mendukung perkembangan sosial serta emosional.
UNICEF dan mitranya telah mengembangkan program Back to Learning untuk memperluas kesempatan belajar nonformal bagi anak-anak Gaza. Program tersebut mencakup penguatan kemampuan dasar, kegiatan pendukung kesejahteraan anak, serta penyediaan ruang belajar sementara.
Inisiatif semacam ini dapat membantu menjaga keberlangsungan pendidikan dalam keadaan darurat. Namun, ruang belajar sementara tidak seharusnya dipandang sebagai pengganti permanen bagi sistem pendidikan yang aman, inklusif, dan berkualitas.
Upaya tersebut perlu berjalan seiring dengan pemulihan fasilitas pendidikan, dukungan bagi guru, penyediaan bahan ajar, dan jaminan akses belajar yang berkelanjutan.
Guru dan Komunitas Memiliki Peran Penting
Keberlangsungan pendidikan tidak hanya bergantung pada bangunan sekolah.
Guru berperan membantu anak memahami materi, menyesuaikan proses pembelajaran dengan kebutuhan mereka, dan menciptakan lingkungan yang mendukung perkembangan.
Dalam situasi darurat, guru juga dapat menghadapi tantangan tersendiri. Mereka mungkin kehilangan tempat tinggal, mengalami gangguan terhadap kehidupan keluarga, atau harus mengajar dengan fasilitas dan bahan pembelajaran yang terbatas.
Karena itu, dukungan terhadap pendidikan perlu mencakup kebutuhan tenaga pengajar, termasuk ketersediaan bahan ajar, pelatihan yang sesuai, dan dukungan kesejahteraan.
Komunitas lokal juga dapat berperan dalam membantu mengidentifikasi kebutuhan anak, menyediakan ruang belajar yang memungkinkan, dan mendukung keluarga agar anak tetap memperoleh kesempatan pendidikan.
Upaya tersebut perlu dikoordinasikan dengan lembaga pendidikan dan organisasi yang memiliki kapasitas untuk memastikan keselamatan serta kualitas layanan.
Pendidikan di Tepi Barat Juga Membutuhkan Perhatian
Pembahasan mengenai pendidikan anak Palestina tidak seharusnya hanya berfokus pada Gaza.
Di Tepi Barat, termasuk Yerusalem Timur, akses pendidikan juga dapat terganggu oleh kekerasan, pembatasan pergerakan, penggusuran, dan perpindahan penduduk.
Dalam laporan situasi kemanusiaan yang diterbitkan pada September 2026, OCHA melaporkan bahwa lebih dari 4.000 siswa yang mengungsi dari kamp pengungsi di wilayah utara Tepi Barat mengalami gangguan terhadap kegiatan sekolah reguler. Laporan yang sama juga mencatat bahwa sejumlah sekolah di Tepi Barat tetap tidak dapat diakses, ditutup, atau ditinggalkan.
Kondisi tersebut menunjukkan bahwa tantangan pendidikan di wilayah Palestina memiliki karakteristik yang berbeda-beda.
Di Gaza, kerusakan fasilitas dan kebutuhan pemulihan sistem pendidikan menjadi perhatian besar. Sementara itu, di sejumlah wilayah Tepi Barat, pengungsian dan pembatasan akses turut memengaruhi kemampuan anak mengikuti kegiatan sekolah.
Karena itu, respons pendidikan perlu mempertimbangkan kondisi lokal. Solusi yang sesuai untuk satu wilayah belum tentu dapat diterapkan dengan cara yang sama di wilayah lainnya.
Yang tetap sama adalah kebutuhan setiap anak akan lingkungan belajar yang aman, akses pendidikan yang berkelanjutan, dan kesempatan untuk mengembangkan kemampuan mereka.
Bagaimana Dukungan Kemanusiaan Dapat Membantu Pendidikan Anak?
Memulihkan pendidikan membutuhkan keterlibatan berbagai pihak, mulai dari lembaga pendidikan dan organisasi kemanusiaan hingga komunitas lokal dan masyarakat internasional.
Dukungan yang diberikan perlu didasarkan pada kebutuhan nyata dan informasi yang dapat diverifikasi.
Beberapa bentuk dukungan yang relevan meliputi:
1. Penyediaan perlengkapan belajar
Buku, alat tulis, bahan pembelajaran, dan perlengkapan pendukung dapat membantu anak mengikuti kegiatan belajar. Penyalurannya perlu disesuaikan dengan kebutuhan dan ketersediaan fasilitas di lokasi tujuan.
2. Pemulihan ruang belajar
Perbaikan dan pembangunan kembali fasilitas pendidikan dapat membantu memperluas akses belajar. Pelaksanaannya perlu mempertimbangkan keselamatan bangunan, kondisi lingkungan, dan risiko yang masih ada.
3. Dukungan bagi guru dan tenaga pendidikan
Guru membutuhkan sumber daya dan dukungan agar dapat menjalankan kegiatan belajar dalam kondisi yang sulit.
4. Dukungan psikososial
Kegiatan belajar yang disertai aktivitas sosial, pendampingan, dan rujukan kepada layanan profesional dapat membantu memenuhi kebutuhan perkembangan anak secara lebih menyeluruh.
5. Pemantauan dan pertanggungjawaban bantuan
Program pendidikan perlu memiliki tujuan yang jelas, mekanisme penyaluran yang dapat dipantau, serta evaluasi untuk memahami apakah dukungan benar-benar menjawab kebutuhan penerima manfaat.
Bagi masyarakat yang ingin berkontribusi, langkah pertama adalah memahami program yang tersedia dan memeriksa kredibilitas organisasi pelaksananya.
Dukungan sebaiknya tidak hanya didasarkan pada narasi yang menyentuh emosi, tetapi juga pada kejelasan tujuan, mekanisme pelaksanaan, dan pertanggungjawaban.
Menjaga Pendidikan Berarti Menjaga Kesempatan Masa Depan
Pendidikan tidak dapat menyelesaikan seluruh persoalan yang dihadapi masyarakat Palestina. Namun, pendidikan merupakan salah satu bagian penting dalam menjaga kesempatan anak untuk tumbuh, mengembangkan kemampuan, dan mempersiapkan masa depan.
Ketika kegiatan belajar terganggu, kebutuhan anak tidak berhenti. Mereka tetap membutuhkan kesempatan membaca, bertanya, bermain, membangun hubungan sosial, dan memahami dunia di sekitarnya.
Karena itu, pemulihan pendidikan perlu dipandang sebagai bagian dari upaya kemanusiaan yang lebih luas. Selain menyediakan kebutuhan dasar, respons kemanusiaan juga perlu membantu memastikan bahwa anak-anak memiliki akses terhadap pendidikan yang aman dan berkualitas.
Bagi Jasmin for Palestine, edukasi publik dapat menjadi salah satu cara untuk membantu masyarakat memahami persoalan ini secara lebih utuh.
Melalui informasi yang kredibel, pembahasan yang berimbang, dan pengenalan terhadap kebutuhan nyata anak-anak Palestina, kepedulian dapat tumbuh menjadi pemahaman yang lebih baik.
Setiap anak berhak belajar, bertumbuh, dan memiliki kesempatan untuk membangun masa depan. Situasi krisis seharusnya tidak menghapus hak tersebut.
